Kepri

CEO PT AeXI : 6,3 Persen Saja UKM yang Sukses Ekspor

PT. AeXI berusaha untuk meningkatkan pengetahuan UKM

JAKARTA– Lebih dari 60 juta UMKM di Indonesia dengan variasi produk dan komoditas yang unik, ternyata hanya sekitar 6,3 persen saja yang telah sukses melakukan ekspor.

“Hal ini karena rendahnya angka literasi digital Indonesia. Jika kita tinggal diam, maka potensi UMKM Indonesia akan terlempar dari pusaran bisnis dunia,” kata CEO PT AeXI Lutpi Ginanjar,

Karena itu dengan memanfaatkan platform digital, PT. AeXI menggagas sebuah program jangka panjang untuk membangun ekosistem ekspor dalam rangka akselerasi ekspor Indonesia untuk memasuki persaingan pasar global.

Dalam ekosistem ekspor, PT. AeXI berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk membantu meningkatkan kapasitas UMKM mulai dari akses pemasaran global, kapasitas SDM di bidang digital marketing, kemampuan permodalan untuk pra-produksi & pasca-produksi, pemahaman & keterampilan dalam melaksanakan ekspor

Melalui komunitas Berani Ekspor, PT. AeXI berusaha untuk meningkatkan pengetahuan UKM lokal terhadap proses ekspor. Mulai dari produksi (standar kualitas, kuantitas & pengemasan), pemasaran (branding, marketing & customer relation), hingga logistik (pengiriman, legalitas & perizinan).

Untuk penjualan B2B, PT. AeXI berkolaborasi dengan Alibaba.com untuk memasarkan produk UMKM Indonesia. Sedangkan, untuk ekspor dalam skala B2C, PT. AeXI menggunakan platform Indonesia in Your Hand, sebuah platform marketplace online karya anak bangsa.

Slanjutnya, sejumlah UMKM yang sudah tergabung dalam AeXI mengatakan banyak terbantu dalam memasarkan produknya ke pasar global. Namun ada saja beberapa tantangan bagi UMKM ekspor ini, misalnya Zainal dari Asosiasi Kelinci Indonesia.

“Permintaan kelinci hiasan maupun pedaging sudah cukup banyak misalnya dari Korea Jepang dan Malaysia. Tapi tiap pengiriman selalu ada persyaratan dokumen baru,” ujar Lutpi.

Sedangkan Mohamad Yayang yang merupakan produsen rotan dari Cirebon, menjelaskan pada 2018 pihaknya mulai melirik pasar Ekspor dan pada 2019 mampu mencatat ekspor rotan senilai 56 ribu dollar AS.

“Masalah kami ya masalah klasik yaitu perijinan dan pembiayaan,” pungkas Mohamad.

Sumber : Liputan6

Redaksi
Penulis : Redaksi

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: