Rupa-Rupa

Tahukah Anda, 5 Hal yang Dianggap Bahaya dari Aplikasi Zoom

Eric Yuan adalah pendiri dan CEO dari Zoom | Business Insider

BISA dibilang Zoom menjadi aplikasi video call yang populer di masa pandemi corona. Meski begitu, layanan ini dianggap memiliki deretan kekurangan yang membahayakan penggunanya.

Hampir semua orang, tak cuma di Indonesia namun juga beberapa negara lain, terlihat menggunakan Zoom untuk menggelar rapat virtual selama masa bekerja dri rumah. Saking banyaknya yang menggunakan Zoom, hal ini justru yang dikhawatirkan oleh para pakar keamanan siber.

Per Maret 2020, lembaga analisis SimilarWeb mencatat ada kenaikan trafik harian sebesar 535 persen di laman download Zoom.us. Sementara menurut riset Sensor Tower, Amerika Serikat sendiri, aplikasi Zoom untuk iPhone menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh dalam beberapa pekan belakangan.

Pengguna yang memanfaatkan layanan Zoom tak cuma masyarakat seperti kita, namun juga ada beberapa tokoh penting seperti Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan mantan ketua federal AS Alan Greenspan juga pakai Zoom untuk rapat selama mereka bekerja dari rumah masing-masing.

Di samping faedah Zoom yang bisa mendekatkan orang-orang yang jauh dan menyatukan obrolan jarak jauh, banyak peneliti keamanan siber melabeli Zoom sebagai “bencana privasi” jika melihat perusahaan asal San Jose, Amerika Serikat ini dalam menangani data pengguna.

Ada beberapa hal yang disoroti dan dianggap berbahaya dari Zoom, berikut rinciannya.

1. ‘Zoom bombing’
FBI mengumumkan mereka sedang menginvestigasi kasus pembajakan video pada 30 Maret kemarin. Pembajakan video ini diberi istilah “Zoom-bombing”, di mana para hacker menyusup ke meeting virtual, bahkan dengan sengaja mengirim ujaran bernada rasis, sampai ancaman.

Pada dasarnya meeting yang diadakan di Zoom bisa diakses melalui URL singkat. Nah, dari temuan lembaga keamanan Checkpoint, link ini bisa dibikin atau bahkan diretas dengan mudah oleh para hacker.

Dari pihak Zoom, mereka telah merilis panduan tentang cara mencegah tamu-tamu meeting yang tidak diinginkan yang mendadak membajak aktivitas rapat. Perusahaan juga mengaku akan mengedukasi para pengguna soal ini.

2. Absennya enkripsi akhir
Aplikasi seperti Telegram dan WhatsApp dikenal sudah menggunakan enkripsi end-to-end untuk menjamin keamanan data dan percakapan tiap pengguna.

Mengutip The Guardian, Zoom membuat kekeliruan saat mengiklankan produknya yang diklaim menggunakan sistem enkripsi akhir dan dapat melindungi komunikasi dari penggunanya.

Hal ini dikonfirmasi oleh Zoom bahwa layanannya memang tidak menggunakan sistem enkripsi dan meminta maaf telah membuat kebingungan tersendiri dari iklannya itu.

3. Cacat keamanan
Sebelum Zoom sepopuler sekarang, ternyata layanan ini memang sudah beberapa kali mengalami cacat keamanan. Pada 2019, terungkap bahwa Zoom diam-diam memasang server web terselubung di perangkat pengguna yang menyebabkan si pengguna bisa tiba-tiba masuk ke panggilan tanpa seizin atau sepengetahuan yang bersangkutan.

Bahkan beberapa hari belakangan ada bug atau gangguan yang bisa bikin para hacker jadi bisa menyusup ke akun Zoom pengguna perangkat Mac, termasuk meretas webcam dan mikrofon.

Pihak Zoom mengatakan mereka telah memperbaiki masalah yang menimpa pengguna Mac, namun masalah-masalah keamanan yang ada di dalam Zoom berhasil membuat profesor komputer Arvind Narayanan dari Princeton University merasa kalau Zoom sama saja seperti virus malware.

“Dibikin sederhana saja. Zoom itu sama saja seperti malware,” ucapnya.

4. Jadi alat mata-mata?
Zoom telah dikritik menjadi layanan yang punya fitur melacak pengguna yang sering disebut sebagai “attention tracking.” Contoh penyebabnya yang paling mudah adalah, ada kantor yang mengadakan rapat virtual, dan gara-gara fitur ini, yang menjadi host rapat dapat memantau tim lain apakah mereka benar-benar memperhatikan Zoom, atau sedang mengklik window lain.

5. Menjual data pengguna
Laporan yang diwartakan situs Motherboard memaparkan bahwa Zoom menjual data pengguna yang pakai perangkat iPhone ke Facebook untuk tujuan iklan, bahkan jika si pengguna tidak memiliki akun Facebook sekalipun.

Laporan Motherboard tersebut dikutip oleh gugatan hukum yang diajukan di pengadilan federal di California pada pekan ini, isinya mendakwa Zoom telah gagal melindungi informasi dan data pribadi dari jutaan pengguna di platformnya.

Zoom kemudian mengubah beberapa kebijakan dan mengklarifikasi bahwa perusahaan tidak pernah menjual data pengguna dan tidak pernah berniat untuk melakukannya di masa yang akan datang.

Sumber : uzone.id

Redaksi
Penulis : Redaksi

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: